17 Juni 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Kutim Serap Modal Asing Terbesar Tahun 2018, Apa Dampaknya?


Kutim Serap Modal Asing Terbesar Tahun 2018, Apa Dampaknya?
Ilustrasi

KLIKSANGATTA.COM - Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) periode Januari 2018 – Desember 2018 di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mencapai US$ 587,50 juta atau Rp7,87 triliun dengan jumlah proyek 513 paket. Semua proyek itu tersebut sebaran di 10 kabupaten atau kota.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu Provinsi Kalimantan Timur Abdullah Sani menyatakan Kabupaten Kutai Timur berkontribusi paling besar dengan nilai US$225,67 juta atau setara dengan Rp3,02 triliun atau 38,41 persen dari total realisasi PMA.

Terbesar kedua adalah Kota Samarinda dengan nilai US$102,10 juta setara dengan Rp1,37 triliun atau 17,38 persen. Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi kontibutor ketiga dengan nilai US$91,44 juta atau setara dengan Rp1,22 triliun alias 17,38 persen.

“Adapun kabupaten atau kota lain berkontribusi pada kisaran 9,32 persen hingga 0,17 persen,” kata Abdullah.

Dari sisi penyerapan tenaga kerja melalui PMA, Abdullah menyatakan lokasi yang menyerap paling besar adalah Kabupaten Berau sebanyak 2.672 orang, disusul Kabupaten Kutai Timur 2.628 orang dan Kabupaten Kutai Kartanegera 2.118 orang.

Total penyerapan TKI periode Januari hingga Desember 2018 sebanyak 12.500 orang. Sedangkan untuk Tenaga Kerja Asing (TKA) yang paling banyak menyerap adalah Kota Balikpapan dengan jumlah TKA sebanyak 25 orang.

Untuk PMA, realiasi terbesar juga masih dari sektor pertambangan dengan nilai US$188,76 juta atau Rp 2,53 triliun sama dengan 32,13 persen.

Subsektor lain yang juga memberikan kontribusi cukup besar bagi investasi di Kaltim adalah subsektor industri makanan sebesar US$118,39 juta atau Rp1,59 triliun atau setara 20,15 persen.

Kontributor berikutnya kata Abdullah adalah sektor transportasi, gudang, dan komunikasi sebesar US$86,57 juta setara Rp1,16 triliun atau 14,73 persen. Adapun kontribusi subsektor lain yaitu pada kisaran 10,75 persen hingga 0,02 persen.

“Sektor lain yang juga menyerap banyak tenaga kerja adalah subsektor kehutanan dengan share serapan tenaga kerja mencapai 3.082 orang atau 24,66 persen. Dan subsektor industri makanan menyerap tenaga kerja sebanyak 1.463 orang atau 11,70 persen,” terang Abdullah.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur Atqo Mardianto mengatakan untuk pendapatan Provinsi Kaltim pada 2018 diperkirakan mencapai Rp8,36 triliun. Adapun Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang didapatkan sekitar Rp4,28 triliun. Sementara dana perimbangan Provinsi Kaltim pada 2018 tercatat sebesar Rp4,04 triliun.

Atqo menyatakan pergerakan harga komoditas andalan-yakni batu bara dan migas-yang menjadi tulang punggung perekonomian di Benua Etam cenderung masih fluktuatif, pertumbuhan ekonomi pun turut mengalami pasang surut.

“Kondisi ini mempengaruhi berbagai macam hal, salah satu diantaranya adalah target realisasi investasi Kaltim yang juga perlu disesuaikan,” terangnya.

BPS Kaltim menyatakan pertumbuhan ekonomi Kaltim pada 2018 sebesar 2,67 persen years on years (y-o-y), tumbuh lebih lambat ketimbang pertumbuhan pada 2017 yang sebesar 3,13 persen.

Hal ini dikarenakan pada 2018 terjadi kecenderungan perlambatan ekonomi dunia yang juga berimbas pada perekonomian nasional, termasuk regional Kaltim. Dalam rilis BPS Kaltim terkait pertumbuhan ekonomi Kaltim periode 2018, perlambatan terjadi akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. (*)

Reporter : Ayub Fardani    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0