23 Mei 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Oknum Dewan Pengupahan Disebut Hambat Penetapan USP Kutim


Oknum Dewan Pengupahan Disebut Hambat Penetapan USP Kutim
Anggota DPRD Kutim, Uce Prasetyo (kanan) bersama Wakil Ketua DPRD Kutim Yulianus Palangitan (kiri) saat menyambut ratusan buruh dalam peringatan May Day di Halaman Gedung DPRD Kutim, Bukit Pelangi, Rabu, 1 Mei 2019. (Foto: Imran R Sahara)

KLIKSANGATTA.COM - Upah Sektoral Perkebunan (UMSK) menjadi topik menarik dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Kutai Timur (Kutim). Pasalnya, anggota DPRD Kutim Uce Prasetyo yang pernah menjabat sebagai anggota dewan pengupahan Kutim itu angkat bicara.

"Saya dulu anggota dewan pengupahan. Terakhir karena jadi dewan saya mundur. Kita sudah menetapkan tahun 2012-2013 ada 2, UMK dan UMSK. Sektoral yang ada, ada 3. Kita tetapkan batu bara, minyak sama perkebunan," ujarnya, Rabu, 1 Mei 2019.

Tiga upah sektoral tersebut, lanjut Uce, sudah dibahas dan disepakati bersama. Namun untuk menentukan besaran nilai yang akan diusulkan ke pemerintah tetap kembali ke buruh dan pengusaha yang tergabung dalam dewan pengupahan.

"Mengapa seperti itu karena yang membayar adalah mereka bukan pemerintah," tutur Uce.

Uce menyebutkan, belum adanya Upah Sektoral Perkebunan di Kutim selama ini diduga terjadi karena ulah oknum di dalam dewan pengupahan.

"Seingat saya, silahkan dicatat. Ada kesepakatan antara oknum buruh dan pengusaha sehingga tidak ada penetapan upah sektoral perkebunan disitu," pungkasnya.

 

Sementara, Imran R Sahara selaku aktivis buruh SPKEP SPSI Kutim berharap, perwakilan buruh yang duduk di dewan pengupahan adalah aktivis yang memang benar-benar sudah teruji pro buruh.

Kekhawatiran muncul ketidaktertiban administrasi menjadi celah bagi segelintir pihak untuk mengais keuntungan sepertihalnya dalam melakukan survei kebutuhan hidup layak (KHL).

 

"Aktivis buruh di dewan pengupahan juga harus terbuka dan tranparansi," pungkasnya. (*)

 

Reporter : Imran R Sahara    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0