22 Juli 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Pro Kontra Mencuat, Pemkab Pastikan Jembatan Masabang Tetap Dibangun


Pro Kontra Mencuat, Pemkab Pastikan Jembatan Masabang Tetap Dibangun
Kapal ponton masih digunakan sebagai media utama penyeberangan warga ke wilayah Sangatta seberang. (Foto: Imran)

KLIKSANGATTA.COM - Usulan pembangunan jembatan Masabang yang mengubungkan antara Sangatta Selatan dan Sangatta Utara di dermaga perahu ponton kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Pasalnya, dilokasi penyebrangan kendaraan roda dua di Kabupaten Kutai Timur itu sudah kerap menelan korban jiwa. Pun begitu perahu ponton yang merupakan sarana penyebarangan dilakasi itu juga menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat.

Pro kontra mengenai usulan pembangunan jembatan itu pun terjadi. Tak hanya di kehidupan nyata, bahkan di media sosial, seperti halnya di grup facebok forum jual beli yang ada di Kabupaten Kutai Timur.

Perdebatan mengenai opsi sarana penghubung darat dilokasi perahu ponton itu bisa dibilang sudah menjadi buah bibir ditengah masyarakat. Puncaknya, pasca kejadian yang menewaskan Wahyu Agus Setiawan, bocah berusi 6 tahun pada, Kamsi, 4 Juli 2019 lalu.

Sejatinya, rencana pembangunan jembatan dilokasi yang dimaksud sudah lama mencuat kepublik. Pemerintah daerah pun sudah menentukan lokasi dan menunjuk salah satu kontraktor untuk membangun jembatan tersebut. Sayangnya hingga kini progres pengerjaan proyek tahun jamak itu belum kunjung berlanjut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kutim Aswandini Eka Tirta melalui Kasi Perencanaan Teknis, Asran Lode, saat ditemui awak media menuturkan jika rencana pembangunan jembatan tersebut akan tetap dilanjut. "Hanya saja pemerintah sedang melakukan negosiasi dengan pemilik lahan. Pemilik ponton minta ganti rugi Rp 1 mililar per ponton," ujarnya, Sabtu (6/7/19) lalu.

Dalam perencanaan, ada tujuh rumah yang akan dilintasi jembatan tersebut. Yakni, enam rumah di Sangatta Utara dan satu rumah di Sangatta Selatan. "Pemkab Kutim menawarkan ganti rugi Rp 100 juta per rumah. Tapi mereka belum mau. Itulah masalahnya," sebut dia.

Meski begitu, pihaknya tetap optimis meneruskan rencana pengerjaan proyek tersebut. Tujuh rumah yang dimaksud akan tetap digusur oleh pemerintah daerah dengan dalih evaluasi. "Evaluasi pembangunan rumah di atas bantaran sungai," tegas Asran. (*).

Reporter : Imran R Sahara    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0