22 Juli 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Pengusaha dan Warga Sekitar Ponton Sepakati Ganti Rugi dalam Rencana Pembangunan Jembatan


Pengusaha dan Warga Sekitar Ponton Sepakati Ganti Rugi dalam Rencana Pembangunan Jembatan
Pertemuan Wabup Kasmidi dengan pengusaha perahu penyeberangan dan warga sekitar di ruang kerjanya. (Foto: imran)

KLIKSANGATTA.COM - Rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan di dermaga perahu ponton, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) akhirnya mendapat titik terang.

Warga pemilik lahan dan usaha perahu ponton setempat sudah sepakat dan menandatangani persetujuan hak ganti rugi dari pemerintah daerah.

Meski sempat berkeras dengan keinginan warga terkait harga pembebasan sesuai apresial dan tuntutan lainnya. Namun, atas tawaran lain pemerintah yang dinilai masih memihak akhirnya mereka menyetujui.

Warga menginginkan adanya tempat tinggal baru sebelum rumah mereka di bongkar. Pemerintah dalam hal ini Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang mengaku sudah membahasnya dalam rembug bersama dengan warga dan pemilik usaha perahu ponton di ruang kerjanya.

Kompensasi terhadap usaha para pemilik ponton disebutkan akan menjadi proritas. "Sekarang semua sudah sepakat. Sudah ditandatangani bersama juga," ujar Kasmidi Bulang, pada, Rabu, 10 Juli 2019 kemarin.

Dalam pelaksanaannya, Kasmidi mengatakan, tim apresial independen sudah menghitung kompensasi yang harus diberikan pemerintah kepada warga yang dimaksud. Meski pemeberian kompensasi dari enam orang berkaitan itu nantinya bervariasi.

"Usaha ponton juga diharapkan bisa tetap berjalan meski ada jembatan. Warga yang ingin lewat jembatan bisa lewat jembatan, yang mau gunakan ponton juga bisa," tuturnya.

Kepada tim pelaksana, Kasmidi berharap agar pekan depan kontraktor yang melaksanakan proyek bersangkutan sudah mulai memobilisasi unit berat dan material jembatan hingga jadwal pembangunan jembatan sudah siap untuk dilaksanakan.

"Nanti, begitu pembangunan dimulai, warga juga sepakat untuk membongkar rumahnya," pungkasnya.

Sebelumnya, Usulan pembangunan jembatan Masabang yang mengubungkan antara Sangatta Selatan dan Sangatta Utara di dermaga perahu ponton menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Pasalnya, dilokasi penyebrangan kendaraan roda dua di Kabupaten Kutai Timur itu sudah kerap menelan korban jiwa. Pun begitu perahu ponton yang merupakan sarana penyebarangan dilakasi itu juga menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat.

Pro kontra mengenai usulan pembangunan jembatan itu pun terjadi. Tak hanya di kehidupan nyata, bahkan di media sosial, seperti halnya di grup facebok forum jual beli yang ada di Kabupaten Kutai Timur.

Perdebatan mengenai opsi sarana penghubung darat dilokasi perahu ponton itu bisa dibilang sudah menjadi buah bibir ditengah masyarakat. Puncaknya, pasca kejadian yang menewaskan Wahyu Agus Setiawan, bocah berusi 6 tahun pada, Kamsi, 4 Juli 2019 lalu.

Sejatinya, rencana pembangunan jembatan dilokasi yang dimaksud sudah lama mencuat kepublik. Pemerintah daerah pun sudah menentukan lokasi dan menunjuk salah satu kontraktor untuk membangun jembatan tersebut. Sayangnya hingga kini progres pengerjaan proyek tahun jamak itu belum kunjung berlanjut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kutim Aswandini Eka Tirta melalui Kasi Perencanaan Teknis, Asran Lode, saat ditemui awak media menuturkan jika rencana pembangunan jembatan tersebut akan tetap dilanjut. "Hanya saja pemerintah sedang melakukan negosiasi dengan pemilik lahan. Pemilik ponton minta ganti rugi Rp 1 mililar per ponton," ujarnya, Sabtu (6/7/19) lalu.

Dalam perencanaan, ada tujuh rumah yang akan dilintasi jembatan tersebut. Yakni, enam rumah di Sangatta Utara dan satu rumah di Sangatta Selatan. "Pemkab Kutim menawarkan ganti rugi Rp 100 juta per rumah. Tapi mereka belum mau. Itulah masalahnya," sebut dia.

Meski begitu, pihaknya tetap optimis meneruskan rencana pengerjaan proyek tersebut. Tujuh rumah yang dimaksud akan tetap digusur oleh pemerintah daerah dengan dalih evaluasi. "Evaluasi pembangunan rumah di atas bantaran sungai," tegas Asran. (*).

Reporter : Imran R Sahara    Editor : Andi Marta



Comments

comments


Komentar: 0