22 Juli 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Harga Batubara Mulai Merangkak Naik


Harga Batubara Mulai Merangkak Naik

KLIKSANGATTA - Harga batubara perlahan mengalami kenaikan. Adanya indikasi kenaikan permintaan batubara dari kawasan Asia memberi angin segar bagi harga komoditas energi ini.

Mengutip Bloomberg, Jumat 22 Januari, harga batubara pengiriman Februari 2016 di ICE Futures Exchange naik 0,30% ke level US$ 50,10 per metrik ton. Dalam sepekan terakhir, harga sudah melompat 0,5%.

Pengamat pasar komoditas Andri Hardianto menilai, harga batubara terdongkrak seiring indikasi kenaikan permintaan dari India. Pemerintah India menargetkan, impor batubara hingga 2025 mendatang mencapai total 1,5 miliar ton.

Meskipun, Bloomberg Intelligence memproyeksikan, impor India hanya akan sekitar 850 juta ton. Menurut Andri, dalam jangka pendek, sentimen ini bisa menjaga harga batubara tetap naik, meskipun terbatas.

"Namun, ini belum mengubah tren harga yang masih bersih," ujarnya.

Katalis positif lain yang bisa menjaga kenaikan harga berasal dari Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan, pada tahun lalu, terjadi penurunan produksi batubara di Indonesia sebesar 14,4% menjadi 392 juta ton.

Tak heran, ekspor batubara Indonesia juga merosot 22,65% menjadi 295,45 juta ton pada tahun 2015. Di sisi lain, permintaan batubara di dalam negeri meningkat melesat 14,77% menjadi 87,43 juta ton sepanjang tahun lalu.

Pasalnya, ada peningkatan permintaan untuk kebutuhan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Analis Pefindo Guntur Tri Haryanto mengatakan, beberapa hari terakhir, harga batubara menunjukkan tren kenaikan. Sebagai sesama komoditas energi, batubara terdorong sentimen positif rebound harga minyak mentah. Apalagi, ada potensi penurunan produksi dari China.

Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang mengatakan, akan memangkas produksi batubara dalam jumlah besar dan memperketat pemberian izin pengembangan pertambangan baru batubara.

"Sehingga untuk beberapa saat, pelaku pasar melupakan fakta bahwa di sebagian besar belahan dunia, penggunaan batubara mulai ditinggalkan," tuturnya.

Seperti diketahui, semakin banyak negara yang mulai mengurangi penggunaan batubara. Di China dan negara Eropa, mulai gencar mengembangkan energi terbarukan.

Negeri Panda mencatat, penggunaan energi terbarukan sepanjang tahun 2015 meningkat 17% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Efeknya, total impor batubara China tahun lalu tergerus 35%, dari tahun sebelumnya. "Kondisi tersebut diperkirakan terus berlanjut pada tahun ini," duga Andri.

Menurut Guntur, sekalipun sejumlah produsen di wilayah Asia mulai mengurangi produksi batubara, pasokan tidak lantas berkurang signifikan.

Soalnya, produsen dari kawasan lain bersiap mengerek produksi. Kolombia, produsen batubara terbesar di Amerika latin berencana menggenjot produksi hingga lebih dari 100 juta ton pada tahun ini.

Tahun 2015, produksinya mencapai lebih dari 90 juta ton. Itu sebabnya, Guntur menilai, tren bearish harga batubara akan berlanjut sepanjang tahun ini. "Bukan tidak mungkin harga ke kisaran US$ 45 per metrik ton.

Namun, untuk sepekan ini, harga bisa bertahan di kisaran US$ 48-US$ 50 per metrik ton," proyeksinya. Andri juga masih melihat, potensi kenaikan dalam jangka pendek. Secara teknikal, stochastic sudah di area jenuh jual (oversold) mendukung kenaikan lanjutan.

Namun, MA 50, 100 dan 200 masih menegaskan tren turun. Prediksinya, pekan ini, batubara berpotensi ke kisaran US$ 42-US$ 58 per metrik ton. "Hari ini, 26 Januari 2016, bisa ke kisaran US$ 45-US$ 55 per metrik ton," terang Andri. (*)

KONTAN.COM

Reporter :     Editor : M. Nasir



Comments

comments


Komentar: 0