26 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Ketua DPRD Kutim Tunggu Laporan Dahlia


Ketua DPRD Kutim Tunggu Laporan Dahlia
Dahlia didampingi keluarga saat dirawat di Rumah Sakit

KLIKSANGATTA – Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, belum mendapat informasi lengkap dari semua pihak terkait kasus pembebasan lahan yang berbuntut dugaan kekerasan terhadap Dahlia, warga Kecamatan Bengalon, Kutai Timur.

Saat ditemui di Kantor DPRD, Senin, 22 Februari 2016, Mahyunadi mengaku siap memfasilitasi pertemuan antara PT Kaltim Prima Coal (KPC) dengan Dahlia, yang diduga mengalami kekerasan di lokasi tambang KPC.

“Sejauh ini, kami belum mendapat laporan dari Ibu Dahlia atau keluarga terkait kasus ini. Sehingga, kita tidak punya dasar untuk melakukan pertemuan. Kalau ada laporan dari Ibu Dahlia, kami pasti akan menggelar Rapat Dengar Pendapat, menghadirkan semua pihak yang terkait,” kata Mahyunadi.

Mahyunadi menambahkan, laporan dari Dahlia penting bagi DPRD Kutim, untuk memastikan Rapat Dengar Pendapat pantas digelar.

Pasalnya, jika Dahlia sebagai korban tidak memberikan laporan resmi ke DPRD Kutim terkait kasus pembebasan lahan dan dugaan kekerasan, maka DPRD Kutim akan terkesan mencari kesalahan.

Padahal, sejatinya DPRD Kutim siap memfasilitasi segala persoalan yang terkait dengan warga yang berkonflik dengan perusahaan.

“Kita ingin semua informasi ini jelas. Jangan hanya katanya. Semua harus berdasarkan fakta. Karena itu, kami menunggu Ibu Dahlia dan keluarga untuk datang ke DPRD Kutim. Kami siap fasilitasi,” katanya.  

Terpisah, anggota DPRD Kutim dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bengalon, Arfan sempat mendapat telepon dari Dahlia, yang sedang berada di kawasan tambang KPC.

Saat itu kata Arfan, dia bersama rombongan DPRD Kutim sedang melakukan inspeksi mendadak di Kilometer 88 Bengalon, ketika Dahlia menghubungi ponselnya.

“Saya dapat telpon dari Ibu Dahlia, bahwa dia sedang di dalam lokasi KPC. Katanya akan ada blasting di area tersebut. Sedangkan dia hanya berjarak sekitar 50 meter dari daerah blasting,” ungkap Arfan.

Mendapat laporan dari Dahlia, Arfan langsung menuju lokasi tambang KPC. Namun, tidak diperbolehkan masuk. “Akhirnya hanya staf DPRD Kutim yang diantar masuk oleh petugas security KPC untuk mengambil foto. Ternyata benar, ada Ibu Dahlia di lokasi itu,” ujar Arfan.

Soal kasus dugaan kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), Arfan mendapat informasi, keluarga Dahlia sudah melaporkan hal tersebut ke Jakarta.

“Rencananya, Kamis ini mereka akan turun dari Jakarta ke Kutai Timur. Itu juga yang kami tunggu,” katanya.

Menurut Arfan, kasus Dahlia sebenarnya merupakan muara dari persoalan pembebasan lahan yang kerap menimbulkan konflik.

Dia mengaku pernah memberikan masukan kepada KPC agar pembebasan lahan melibatkan tim dari semua unsur pemangku kepentingan, untuk mencegah konflik.

“Kesepakatan seperti itu. Dalam pembayaran itu dilibatkan tim, dan tidak ada lobi-lobi di lapangan antara pihak KPC dan masyarakat,” ujar Arfan. 

Pembaca yang budiman, terima kasih sudah berkunjung.

Kami juga hadir di facebook kliksangatta dan twitter @kliksangatta.

Selamat beraktivitas 

 

Reporter : Sukriadi/Ardhan Ahmad    Editor : Andi Marta



Comments

comments


Komentar: 0