19 Januari 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Tety Syam dalam Hari Perempuan Sedunia: Saling Menghargai Kunci Kesetaraan


Tety Syam dalam Hari Perempuan Sedunia: Saling Menghargai Kunci Kesetaraan
Kepala Kejaksaan Negeri Sangatta Tety Syam.

“Di kantor, saya dan semua staf memegang prinsip saling menghargai. Hal itu jauh lebih besar daripada pandangan kesetaraan yang saat ini sudah jauh lebih baik.”

Sosoknya membuat kesan tersendiri pada salah satu lembaga penegakan hukum di Kabupaten Kutai Timur. Tety Syam SH, MH, perempuan berkacamata yang sejak dua tahun terakhir memegang pucuk pimpinan Kejaksaan Negeri Sangatta itu dikenal jeli dalam penanganan perkara.

Baginya, peringatan Hari Perempuan Sedunia atau Internasional Woman’s Day 8 Maret kemarin menjadi momen penegasan peran penting perempuan di mata dunia. Posisi perempuan, melalui dirinya, tampil dalam wujud hakiki kesetaraan gender dalam mengemban tugas atau profesi.

“Saya melihat kesetaraan pada titik tertentu telah berhasil dicapai Indonesia. Perempuan kini dapat memegang peran penting dalam berbagai instansi. Di Kutim saja, banyak juga unsur pimpinan yang diisi oleh perempuan,” ujar Tety kepada kliksangatta, 8 Maret 2016 kemarin.

Walau ia mengakui, tak sedikit juga perempuan yang masih tertindas. Ia menyoroti perempuan yang terpaksa maupun tidak, harus bekerja sebagai pekerja seks komersial. Dalam pandangannya, keterampilan menjadi tolak ukur penting agar seorang individu, khususnya perempuan, agar mandiri dan tak terjerumus dalam lingkungan negatif yang justru merugikan diri sendiri.

Tety yang sebelumnya bertugas di Kejaksaan Tinggi Sumatra Barat itu sempat berceloteh tentang semangat perempuan yang bekerja sebagai TKW Indonesia di luar negeri. Selain mengejar ringgit, tak sedikit dari mereka sambil berkuliah atau belajar sehingga saat pulang ilmunya dapat diterapkan. “Maka di situ pentingnya keterampilan dan pengetahuan,” tambahnya.

Sebagai ibu dari dua putri dan satu putra, ia pun sadar pentingnya membentengi anak mulai dari rumah. Gaya membekali anak pun dibuat santai, jauh dari kesan paksaan yang menurutnya tak cocok lagi. Biasanya dengan melihat langsung di luar rumah atau sekedar sharing. Mulai dari mengenalkan ilmu agama agar iman terpupuk dan support dari keluarga untuk bekal menghadapi lingkungan masyarakat.

“Anak juga diajari pentingnya menghargai proses. Para perempuan kini harus mandiri agar tak mudah dimanfaatkan laki-laki. Itu juga yang saya sampaikan di sini, di tempat kerja. Kalau mau berhasil harus usaha dong, harus kerja. Tak lepas harus berdoa pada Allah, harus dengan ridho Yang Maha Kuasa.

“Di kantor, saya dan semua staf memegang prinsip saling menghargai. Hal itu jauh lebih besar daripada pandangan kesetaraan yang saat ini sudah jauh lebih baik,” sebut wanita yang mengawali kiprahnya tahun 1993 di Kejati Riau ini.

Sebagai seorang perempuan, Tety mengakui perannya tak lepas dari kodrat. Jika tiba di rumah, menjadi ibu bagi anak-anak dan istri serta lepaslah predikat pimpinan dalam penegakan hukum di kejari itu, ia menambahkan.

Dalam peringatan Hari Perempuan Sedunia itu, kepada setiap perempuan ia berpesan untuk terus semangat dan enggan dikecilkan oleh laki-laki. Caranya dapat dengan mengembangkan keterampilan agar perempuan dapat mandiri.

“Dan tetap mengingat kodrat kita sebagai perempuan, sebagai ibu rumah tangga dan ibu bagi anak. Tetap semangat bagi seluruh perempuan dan ibu Indonesia,” sapa Tety disusul senyuman. (*)

Pembaca yang budiman, terima kasih sudah berkunjung 

 Kami juga hadir di facebook kliksangatta dan twitter @kliksangatta 

  Selamat beraktivitas

 

Reporter : Qadlie Fachruddin    Editor : Andi Marta



Comments

comments


Komentar: 0