17 Desember 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Uskup Agung Pimpin Unjukrasa Menolak Penggunaan Batubara


Uskup Agung Pimpin Unjukrasa Menolak Penggunaan Batubara
Uskup Agung Lipa, Mgr Ramon Arguelles, memimpin unjukrasa

Uskup Agung Lipa di Provinsi Batangas, Filipina memimpin koalisi nasional untuk menentang penggunaan batubara serta energi kotor dan berbahaya lainnya.

“Penggunaan ini tidak bermoral untuk membebankan generasi mendatang dengan polusi dan biaya energi pilihan keliru yang dilakukan saat ini,” kata Uskup Agung Lipa Mgr Ramon Arguelles.

“Ini adalah saatnya untuk mengakhiri batubara,” kata uskup agung itu selama orasinya di Manila pada, Kamis, 6 April 2016, tentang “Break Free from Fossil Fuel 2016,” sebuah upaya terkoordinasi secara global untuk meningkatkan perang melawan bahan bakar fosil.

Aksi protes massa juga dijadwalkan pada 15 Mei di Indonesia, Nigeria, Brazil, Amerika Serikat, Jerman, dan Australia.

Pada Desember 2015, para pemimpin dunia sepakat di Paris untuk mengurangi pemanasan global, namun negara-negara termasuk Filipina terus menggunakan batubara baru, gas, minyak dan bahan bakar fosil lainnya.

“Ini mengerikan bahwa ada 17 pembangkit listrik tenaga batubara yang ada di negara ini dan 29 lainnya masih dalam pipa,” kata Ian Rivera, koordinator nasional Gerakan Keadilan Iklim Filipina.

Lidy Nacpil, koordinator Gerakan Masyarakat Asia tentang Hutang dan Pembangunan mengatakan gerakan iklim global “akan menuntut para pemimpin dunia untuk mempraktekkan apa yang mereka bicara.”

Uskup Agung Arguelles akan memimpin sekitar 10.000 aktivis pada 4 Mei untuk menyerukan penghentian pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara dengan 600 megawatt di kota Batangas, yang merupakan bagian dari Keuskupan Agung Lipa.

Protes Batangas yang akan datang digelar beberapa hari sebelum pemilu nasional negara itu pada 9 Mei.

“Kami tidak berkampanye untuk pribadi siapapun, melainkan, kami menantang para kandidat untuk memasukkan isu-isu lingkungan dalam platform mereka,” kata Uskup Agung Arguelles.

Prelatus itu mencatat bahwa tidak ada program lingkungan selama debat presiden terakhir.

Reuben Muni, juru kampanye iklim dan energi dari Greenpeace Asia Tenggara mengatakan presiden Filipina mendatang “harus memperhatikan seruan rakyat dan era baru bebas dari batubara dan bentuk energi kotor lainnya.”

Kelompok-kelompok lingkungan telah menyatakan kekecewaan mereka di mana para calon presiden tidak memiliki program terencana mengenai isu-isu lingkungan.

“Dari apa yang telah kita lihat sejauh ini, para calon presiden membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam tentang isu-isu lingkungan yang harus segera ditangani,” kata Naderev Sano, direktur eksekutif Greenpeace.

Sumber: ucanews.com

Reporter :     Editor : Eky Sambora



Comments

comments


Komentar: 0