18 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Geopolitik Posisi Pelabuhan Internasional di Indonesia


Geopolitik Posisi Pelabuhan Internasional di Indonesia
Direktur MARIN Nusantara Makbul Muhammad

*Makbul Muhammad

Pelabuhan menjadi sketsa perkembangan ekonomi di daratan sebagai pintu gerbang arus masuk dan keluarnya hasil produksi maupun kebutuhan ekonomi di daratan.

Maka negara-negara maju di dunia menjadikan pelabuhan sebagai salah satu pilar untuk menopang perekonomian negaranya atau bahkan beberapa negara memanfaatkan letak geografinya yang stategis dengan membangun pelabuhan untuk memanfaatkan jalur perdagangan dunia seperti negara Singapura.

Posisi pelabuhan internasional di Indonesia yang dioperasikan saat ini, seperti pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, pelabuhan Tanjung Emas di Semarang, dan pelabuhan Soekarno Hatta di Makassar secara geografis berada dalam gugusan kepulauan Indonesia.

Sejauh ini, orientasi pelabuhan internasional ini pun hanya biasa dimaksimalkan sebagai tulang punggung konektivitas pelayaran nasional.

Historis posisi pelabuhan di Indonesia tidak lepas dari politik maritim kolonial sebagai upaya menghentikan bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim dengan menutup akses nusantara ke jalur-jalur strategis perdagangan dunia.

Ironisnya, selama 70 tahun Indonesia merdeka, bangsa ini masih mempertahankan posisi pelabuhan internasional di dalam gugusan pulau yang sama sekali mengabaikan unsur geopolitik perdagangan di kawasan maupun dunia yang mengakibatkan pelabuhan Indonesia tidak menyambut lalu lintas perdagangan dunia seperti di Selat Malaka dan Samudera Pasifik.

Memang ada sejumlah pelabuhan baru yang dikembangkan barbasis teknologi tinggi tetapi juga mengabaikan aspek geopolitik seperti pelabuhan Teluk Lamong di Jawa Timur. Pelabuhan Teluk Lamong ini disebut sebagai pelabuhan tercanggih di Asia Tenggara, bahkan pihak Singapura pun penasaran dan berkunjung untuk melihat langsung bagaimana sistem operasi pelabuhan yang dibangun dengan biaya Rp 23 triliun tersebut.

Jika pelabuhan berteknologi tinggi ini dibangun di luar gugusan pulau, misalnya seperti di bagian lintasan Selat Malaka maka posisi pelabuhan ini bisa langsung mengakses pengiriman logistik ekspor-impor Indonesia tanpa harus melalui pelabuhan transfer logistik di Singapura.

Halaman selanjutnya>>>



Reporter :     Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0