19 Desember 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Nestapa di Tengah Pesta Perayaan Ultah


Nestapa di Tengah Pesta Perayaan Ultah
Mariana.

Penulis: Mariana

Ketua Persatuan Wanita Dayak (PKD) Kutim, dan Ketua Gapeknas Kutim

MENDUNG seolah bergelayut di langit Kutai Timur, ketika defisit dan pemangkasan anggaran bertahta.

Dimulai dari angka Rp 400 miliar, defisit APBD Kutim tahun 2016 terus memuncak, di kisaran Rp 1,4 Triliun.

Berita sedih bagi rakyat, sekaligus tanda untuk bergerak. Pemerintah Kabupaten, mengambil langkah penghematan. Perjalanan dinas ditekan, anggaran kegiatan proyek dihentikan.

Laju pembangunan Kutim seperti tersendat. Publik sadar, saatnya mengencangkan ikat pinggang, karena ekonomi Kutim bisa saja melambat. Sudah waktunya semua pihak mulai berhemat.

Di saat yang sama, Kutim tidak lama lagi beranjak dewasa. Ulang tahun (Ultah) ke-17 sudah di depan mata. Lalu, muncul wacana untuk membuat pesta Ultah prestisius, memecahkan rekor bakar ikan terpanjang di Indonesia, 17 kilometer.

Demi mendapatkan satu sertifikat dari Museum Rekor Indonesia (MURI), Kutim rela mengeluarkan uang banyak, walaupun dana bersumber dari dompet CSR perusahaan di Kutim.

Alangkah lebih baik, dana bakar ikan digunakan membantu mensejahterakan masyarakat yang membutuhkan. Masih ada tenaga honorer yang belum sejahtera, petugas kebersihan kekurangan, pedagang kecil minim modal, atau memberi bantuan pupuk kepada petani diseluruh pelosok kutim. Efeknya akan awet dirasakan dalam kurun waktu yang lama.

Pemberian bantuan dari dana bakar ikan  kepada masyarakat dan pedagang kecil, akan berdampak positif bagi perputaran ekonomi Kutai Timur.

Jika kegiatan bakar ikan sebagai alasan untuk memajukan sektor pariwisata, maka seharusnya dana itu diarahkan untuk membenahi destinasi wisata yang belum sempurna, serta mengeksplorasi potensi pariwisata, sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Hari Ultah Kutim ke 17 bisa saja kita rayakan meriah, namun, keadaan pahit yang menjadi kado Ultah Kutim dari pemerintah pusat, harus menjadi pertimbangan.

Lebih bijak kalau diselenggarakan sederhana, jauh dari kesan wah, dan tidak membuat rakyat nestapa. (*)

Reporter :     Editor : Eky Sambora



Comments

comments


Komentar: 0