18 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Bonus Demografi Kutai Timur Berpotensi Tumbuhkan Ekonomi


Bonus Demografi Kutai Timur Berpotensi Tumbuhkan Ekonomi

Penulis: Melindawati (Staf BPS Kutai Timur)

Menurut hasil hitungan dari data yang dihasilkan Badan Pusat Statistik Indonesia diprediksi akan mendapat bonus di tahun 2020-2030, berupa bonus demografi. Ketika berbicara “bonus” yang ada dalam pikiran adalah “keuntungan”. Berbicara keuntungan orientasi pastilah profit yang dihasilkan atas usaha yang dilakukan.

Tulisan ini akan diuraikan mengenai bonus yang akan didapatkan berupa bonus demografi. Bonus demografi per definisi diartikan sebagai gambaran dari kondisi penduduk dengan umur produktif (15-64 tahun) sangat besar sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak (jumlah usia angkatan kerja mencapai sekitar 70 persen, sedang 30 persen penduduk yang tidak produktif (usia pada usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun) yang akan terjadi pada tahun 2020-2030.

Tentu saja ini merupakan suatu berkah, melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Imbasnya adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Namun berkah ini bisa berbalik menjadi bencana jika bonus ini tidak dipersiapkan kedatangannya.

Di Kabupaten Kutai Timur, bonus demografi tersebut sudah mulai terlihat beberapa tahun yang lalu. Pada tahun 2010, usia produktif di Kabupaten Kutai Timur mencapai 66,63 persen dan selalu meningkat hingga pada tahun 2015 usia produktif tersebut secara absolut bertambah sebesar 56.143 jiwa atau menjadi 67,07 persen.

Pertambahan 56 ribu jiwa usia produktif ini dibanding tahun 2010 merupakan potensi yang besar bagi Kutai Timur untuk dapat menumbuhkan ekonominya.

Dari piramida penduduk di atas terlihat, penduduk Kutai Timur memusat di kelompok usia 25-29 tahun. Penduduk usia 25-29 tahun berjumlah 32.686 jiwa atau sebesar 14,89  persen dari total  penduduk. Skema statistik berbentuk mangkok terbalik mengindikasikan kondisi dalam 5 tahun ke depan, generasi non produktif yang muda, akan beranjak ke generasi produktif.

Selain itu akan terlihat pula bahwa dominasi penduduk yang produktif akan sangat jelas pada tahun 2020 dan tahun-tahun selanjutnya. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan juga tidak terlalu besar perbedaannya, jadi tidak akan menjadi masalah yang berarti.

Dengan demikian, menurut Sri Mulyani seperti halnya wilayah lain di Indonesia, Kutai Timur mempunyai demografi penduduk muda dan ini bisa menjadi source of growth.

Demografi penduduk Indonesia yang besar dengan potensi penduduk muda produktif yang besar, dan jika ini terus diarahkan dan dimanfaatkan, maka dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sehingga dapat dikatakan penduduk usia produktif memberikan potensi yang sangat besar bagi Kutai Timur.

Secara alamiah jumlah angkatan kerja berkembang sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk berumur 15 tahun keatas. Semakin besar jumlah penduduk berumur 15 tahun keatas, maka pada gilirannya jumlah angkatan kerja juga semakin bertambah.

Di Kabupaten Kutai Timur pada Tahun 2015 jumlah tenaga kerja sebanyak 129.058 pekerja dengan jumlah 99.477 pekerja laki-laki dan 29.581 pekerja perempuan, jumlah ini meningkat dari tahun 2014 dimana jumlah pekerja di Kabupaten Kutai Timur sebanyak 127.000 pekerja atau naik sebanyak 1.62 % hal ini di karenakan masih banyak para penduduk di luar Kabupaten Kutai Timur yang mencari pekerjaan di Kabupaten Kutai Timur.

Potensi Ekonomi di Kabupaten Kutai Timur

Kabupaten Kutai Timur merupakan kabupaten dengan kekuatan ekonomi yang bersumber dari kekayaan Sumber Daya Alam (SDA)  paling besar. Sejak tahun 2010 hingga 2015, peranan paling besar masih disumbang oleh kategori Pertambangan dan Penggalian dengan kontribusi diatas 80 persen.

Kategori tersebut sejak tahun 2012 selalu mengalami penurunan hingga pada tahun 2015, peranan Pertambangan dan Penggalian hanya mencapai 80,31 persen.

Sebaliknya, Kategori yang mulai meningkat setiap tahunnya ialah Kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan semakin meningkat sejak tahun 2011 hingga pada tahun 2015 mencapai 8,11 persen.

Diperkirakan untuk tahun-tahun selanjutnya andil dari lapangan usaha ini semakin berkembang, dimana lapangan usaha ini merupakan produk andalan setelah lapangan usaha pertambangan dan penggalian.

Padahal penyerapan tenaga kerja terbesar pada sektor pertanian yaitu sebesar 38,88 persen dan sektor Pertambangan dan Penggalian menyerap tenaga kerja sebesar 22,89 persen.

Hingga saat ini, Kabupaten Kutai Timur masih menjadi daerah tujuan para pencari kerja dari luar wilayah Kabupaten Kutai Timur, khususnya para pencari kerja dari wilayah Sulawesi dan Jawa. Sayangnya, pencari kerja tersebut masih tertarik untuk mendapatkan lapangan pekerjaan di Kabupaten Kutai Timur pada sektor pertambangan dan penggalian.

Perekonomian Kutai Timur pada tahun 2015 mengalami pertumbuhan yang positif, dibandingkan dengan kabupaten lain di Kalimantan Timur yang mengalami pertumbuhan negatif.

 

Tabel 2 menunjukkan besaran ICOR  Kutai Timur pada tahun 2011 sebesar 1,181. tahun 2012 mengalami peningkatan menjadi 1,656 persen. Selanjutnya sejak tahun 2012 hingga tahun 2014, ICOR  Kutai Timur mengalami peningkatan, yaitu dari 4,256 hingga 5,176. Pada akhirnya tahun 2015 menjadi 12,238 yang menyatakan bahwa untuk mendapatkan 1 unit output tahun 2015, diperlukan investasi sebesar 12,238 unit. Kemungkinan adanya perlambatan perekonomian Kabupaten Kutai Timur ikut mendorong nilai ICOR yang tinggi tahun 2015.

Tabel 2. Incremental Capital Output Ratio.

U r a i a n

2010

2011

2012

2013

2014*)

2015**)

 

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

 

 

PDRB (ADHK 2010) (miliar rupiah)

59.132,11

69.528,39

77.552,44

80.730,97

83.596,95

84.707,48

 

 

Perubahan (miliar rupiah)

-

         10.396,28

      8.024,05

      3.178,53

      2.865,98

      1.110,53

 

 

PMTB (ADHK 2010) (miliar Rp)

10.180,13

12.274,59

13.289,18

13.527,58

14.835,15

13.590,52

 

 

ICOR

-

1,181

1,656

4,256

5,176

12,238

 

 

                   

  *)  Angka Sementara, **) Angka Sangat Sementara

Selain dampak investasi terhadap ekonomi juga perlu dilihat bagaimana penyerapannya terhadap tenaga kerja di Kutai Timur. Oleh karena itu indikator yang diperlukan berkaitan tambahan output dan penyerapannya dengan tenaga kerja adalah Incremental Labour Output Ratio (ILOR).

Berbanding terbalik dengan indikator investasi, semakin besar nilai ILOR menunjukkan produktivitas yang tinggi dari tambahan output dalam penyerapannya terhadap tenaga kerja.

Tabel 3. Incremental Labour Output Ratio 

U r a i a n

2010

2011

2012

2013

2014

2015

 

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

 

 

Jumlah Tenaga Kerja

106.174

116.742

117.380

128.164

127.000

129.058

 

 

Perubahan

 

    10,568.00

638.00

    10,784.00

    (1,164.00)

2,058.00

 

 

PMTB (ADHK 2010) (miliar Rp)

10.180,13

12.274,59

13.289,18

13.527,58

14.835,15

13.590,52

 

 

ILOR

 

            0.86

             0.05

            0.80

         (0.08)

0.15

 

 

                   

Angka ICOR dan ILOR di atas sangat berguna untuk mengarahkan investasi bagi pencapaian tujuan pengembangan ekonomi di Kabupaten Kutai Timur. Dengan mengetahui angka ILOR pemerintahan dapat menyusun target pertumbuhan ekonomi untuk menampung angkatan kerja yang memerlukan lapangan pekerjaan.

Kemudian dari target pertumbuhan ekonomi tersebut bisa diperkirakan, berupa besar investasi yang di perlukan dengan berbagai skenario yang dimungkinkan, misalnya sektor atau bidang usaha mana yang harus dipacu, fasilitas apa yang diperlukan, bagaimana mengalokasikan sumber daya yang ada, secara efisien, bagaimana mengurai disparitas pertumbuhan, dan sebagainya.

Bagi investasi, atau pengusaha, informasi mengenai kaitan investasi dengan ekonomi makro ini juga dapat dijadikan bahan untuk mengarahkan investasinya ke sektor usaha yang paling menguntungkan dengan risiko yang paling minimal.

Oleh karena itu ketersediaan informasi seperti atas, secara luas merupakan hal yang sangat diperlukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat investor berguna mendorong pengembangan investasi nasional yang lebih sehat, efisien dan berdaya saing tinggi.

Tentunya bonus demografi tidak diperoleh secara otomatis begitu saja, tetapi harus diupayakan dan diraih dengan arah kebijakan yang tepat, seperti menyiapkan kualitas sumber daya manusia yang akan masuk ke angkatan kerja, menyiapkan keterampilan dan kompetensi tenaga kerja, dan kebijakan ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja, fleksibilitas pasar tenaga kerja, keterbukaan perdagangan dan tabungan serta dukungan sarana dan prasarana.

Bonus demografi akan dapat dirasakan maksimal bila penduduk produktif bekerja dan melakukan aktifitas positif, terjadi peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan, pengendalian jumlah penduduk, kebijakan ekonomi yang mendukung fleksibilitas tenaga kerja dan pasar, tidak ada diskriminasi antara pekerja perempuan dengan laki-laki, masyarakat memiliki akses tabungan, hingga keterbukaan perdagangan dan saving nasional.

Reporter :     Editor : Eky Sambora



Comments

comments


Komentar: 0