23 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Waspada! Ada 86 Lubang Bekas Tambang di Kutai Timur


Waspada! Ada 86 Lubang Bekas Tambang di Kutai Timur
Ilustrasi lubang bekas tambang yang tidak direklamasi

KLIKSANGATTA.COM - Data Dinas Pertambangan pada 2016 menyebut, ada 1.430 pemegang izin tambang di Kalimantan Timur dengan luas konsesi 5,134 juta hektar --atau 40,3 persen luas wilayah ini yang mencapai 12,737 juta hektare. Izin tambang meliputi izin eksplorasi 820 perusahaan dan operasi produksi 610 perusahaan.

Pada 2015, perusahaan mengeruk 237,12 ton batubara dari perut Kaltim. Angka ini 49,2 persen bdari produksi batubara nasional tahun itu sebesar 461,6 juta ton. Produksi diperkirakan bakal terus menurun.

Dalam rencana strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, produksi batubara nasional pada 2019 hanya 400 juta ton. Produksi turun karena permintaan lesu dari Tiongkok dan India, dua tujuan ekspor batubara terbesar. Kondisi ini menyebabkan sejumlah perusahaan gulung tikar.

Pada 2015, misalnya, ada 125 perusahaan tambang di Kaltim bangkrut. Pada wilayah konsesi, mereka meninggalkan kubangan bekas tambang yang bisa menjadi bom waktu kerusakan lingkungan dan menelan nyawa penduduk.

Ke 17 lubang bekas tambang yang masuk catatan Komnas HAM sesungguhnya hanya sebagian kecil dari kolam tambang yang digali begitu saja di sekujur Kaltim.

Dikutip Klik Samarinda dari laman Mongabay, Amrullah, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kaltim mengatakan, berdasarkan laporan 81 perusahaan hingga Desember 2016, ada 314 lubang bekas tambang batubara.

Temuan Dinas Pertambangan dua kali lipat. Hingga Agustus lalu, ada 632 lubang tambang menjelma menjadi kubangan raksasa. Jumlah itu diperoleh dari pemotretan dari udara lewat satelit Landsat.

Bekas tambang terbanyak ternyata tersebar di Kutai Kartanegara, yakni 264 lubang. Di Samarinda ada 164 lubang. Di Kutai Timur ada 86 lubang, Paser 46, Kutai Barat 36, Berau 24, dan Penajam Paser Utara 1 lubang.

Angka itu sebenarnya bisa lebih banyak dari yang tercatat. Citra satelit tak bisa menjangkau semua lubang. Sejumlah konsesi tertutup awan saat dipotret. Selain itu, kata Amrullah, masih banyak perusahaan belum melaporkan lubang tambangnya. Dinas Pertambangan pun belum menginspeksi langsung ke lapangan. (*)

Reporter : NR Syaian    Editor : Eky Sambora



Comments

comments


Komentar: 0