24 Februari 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Tahun 2020, Titik Start Pembangunan Kilang Bontang


Tahun 2020, Titik Start Pembangunan Kilang Bontang
Ilustrasi kilang minyak. (int)

KLIKSANGATTA.COM - PT Pertamina (persero) memastikan progress pembangunan kilang baru (Grass Root Refinery) Bontang selangkah lebih maju. Saat ini Pertamina telah menggandeng investor untuk membiayai proyek pembangunan senilai Rp 130 triliun ini.

Pertamina berkerja sama dengan konsorsium asal Oman yakni Overseas Oil and Gas LLC (OOG) dan perusahaan trading asal Jepang Cosmo Oil International Pte Ltd (COI). Seluruh biaya pembangunan akan dibebankan kepada pihak konsorsium. Rencananya, kegiatan konstruksi dimulai pada 2020 mendatang, dan rampung pada 2025.

“Alhamdulillah kesultanan Oman memberikan support pembiayaan project ini, sedangkan untuk operator nantinya akan dilakukan oleh COI dari Jepang,” kata Direktur Mega Proyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ardhy N Mokobombang, saat menggelar audiensi penjelasan Pertamina terkait rencana pembangunan Kilang di Kota Bontang, di Aula Pendopo Rujab Walikota, Kamis 1 Februari 2018 pagi tadi.

Direktur Ardhy mengatakan, skema pembagian saham mayoritas dikuasi oleh konsorsium. Sedangkan Pertamina mendapat kuota 10 persen dari saham tersebut. Kendati demikian, pertamina tetap memiliki otoritas untuk mengontrol bisnis dari kilang ini.

Marketing di dalam negeri nantinya akan dikuasakan sepenuhnya oleh Pertamina. Sedangkan untuk marketing luar nantinya dikuasakan ke COI. Sedangkan bahan baku akan diperoleh dari negara-negara di Timur Tengah.

“COI juga nantinya akan mengurusi marketing, crude akan dipasok dari middle east sana. Kemudian diolah di Kilang Bontang lalu dipasarkan untuk kebutuhan di dalam dan luar negeri,” kata Ardhy.

Dijelaskan, tahapan terdekat saat ini yakni penandatanganan kontrak kerja sama Frame Work Agreement antara Pertamina dengan konsorsium . Rencananya pekan ini kerjasama sudah disepakati kedua belah pihak.

Kemudian, dilanjutkan dengan Feasibility Study (FS) hingga tahun depan. Lalu masuk ke tahapan selanjutnya yaitu, penyusunan engineering package (FEED). Pada tahapan ini nantinya tim akan melihat potensi untuk mengembangkan industri turunan dari produk Migas, yakni Industri Petrokimia.

Investor tertarik dengan konsep Industri Petrokimia yang ditawarkan. Hanya saja, untuk keperluan tersebut dibutuhkan lahan kurang lebih 500 hektare. Untuk itu, dirinya meminta Pemkot Bontang mau men-support ketersediaan lahan untuk pembangunan dua industri raksasa ini di Bontang.

“Kalau lahan utnuk GRR ini dibutuhkan sekitar 400 hektar, kami minta 100 hektar saja lagi untuk mendirikan industry Petrokimia bersebelahan dengan Kilang Bontang,” ujarnya.

Sementara itu, Walikota Bontang Neni Moerniani mengatakan pihaknya siap memberikan dukungan secara maksimal demi kelancaran pembangunan kilang. Namun, dirinya meminta agar proses pembangunan kilang ini dipercepat.

Pasalnya, infrastruktur di Kota Bontang telah memenuhi. Berbeda dengan daerah lainya, seperti di Tuban atau Cilacap baru memulai namun Bontang telah memiliki infrastruktur, seperti Pelabuhan dan Kawasan Industri.

“Kalau bisa dipercepat lah, karena Bontang ini memiliki infrastruktur yang siap,” kata Walikota Neni yang ditanggapi positif oleh Direktur Ardhy.

Turut hadir pada kesempatan ini, Senoir Vice President PE, PT Pertaminan Iganasius Tanulembang, Direktur I Jamintel selaku Ketua TP4D, Happy Hadiastuti jajaran Managemen PT Badak NGL dan pejabat eselon II di lingkungan Pemkot Bontang.(*)




Comments

comments


Komentar: 0