17 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Seekor Orangutan Tewas Dihujani Ratusan Peluru


Seekor Orangutan Tewas Dihujani Ratusan Peluru
Tim dokter menunjukkan butiran peluru yang dikeluarkan dari tubuh individu Orangutan, yang mati karena diduga ditembak orang tidak bertanggung jawab. (HO- Ramadhani COP)

KLIKSANGATTA.COM -  Ratusan peluru bersarang di tubuh orangutan tak bisa dikeluarkan semuanya. Hanya 48 peluru yang berhasil diambil oleh tim dokter saat melakukan autopsi di ruang jenazah Rumah Sakit Pupuk Kaltim, Selasa 6 Februari 2018 malam.

Proses pengambilan peluru di tubuh anak orangutan yang tewas mengenaskan memakan waktu dan rumit. Buktinya proses pengangkatan mulai pukul 21.30 Wita berakhir 03.00 Wita, Rabu (7/2/2018) dini hari. Jika dikalkulasi selama kurun waktu 5 jam lebih.

Padahal berdasar hasil rontgen terdapat 130 butir peluru bersarang di tubuh orang utan yang diperkirakan umurnya sekitar 5-7 tahun ini. Yaitu, terdapat di tangan kanan 9 peluru, tangan kiri 14 peluru, kaki kanan 10, kaki kiri 6, sedangkan dada 17 peluru serta ada peluru dimata sehingga membuatnya .

“Paling banyak di kepala 74 peluru. Peluru sudah menyelip ke tulang jadi susah diangkat,” ungkap Ramadhani, Manager perlindungan Habitat Centre For Orangutan Protection (COP).

Ramadhani berujar ditemukan juga lubang diameter 5 mm di pipi kiri, gigi taring bawah sebelah kiri patah, luka terbuka yang masih baru di 19 titik tubuhnya diperkirakan karena benda tajam, testis kanan terdapat syatan dan bernanah, lebam daerah paha kiri, dada kanan dan tangan kiri karena benda tumpul. “Serta dalam usus terdapat 3 biji buah sawit dan buah nanas,” jelasnya.

Tidak hanya peluru hewan bernama latin Pongo Pygmaeus Morio ini bedasar hasil rontgen diduga terkena sabetan benda tajam. Ini terlihat pada tubuhnya yang sudah robek. "Benda tajam ini diperkirakan terjadi baru saja, satu atau dua hari," ucap dia.

Tidak hanya senjat tajam, ketika melakukan autopsi tim juga menemukan adanya bekas benda tumpul yang menghantam kera ini. "Ada  di dada, lambung, paha dan sebagiannya, nanti jelasnya habis autopsi," katanya.

Sedangkan salah satu telapak kaki bagian kiri yang hilang tersebut diperkirakan terjadi sekira 1 - 2 tahun lalu. Akan tetapi pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebabnya. "Hilangnya sudah lama. Apakah karena dijerat atau dipotong," tambah dia.

Sementara diketahui orangutan itu pertama kali ditemukan warga, seperti merintih kesakitan, Sabtu (3/2/2018) di sebuah danau kecil area hutan TNK. Temuan itu, langsung dilaporkan ke petugas Balai TNK.

"Balai TNK kemudian berkoordinasi ke COP pada hari Minggu (4/2/2018), sehari setelah ditemukan. Tim kami, Senin (5/2/2018) tiba di Bontang, karena Orangutan itu dibawa ke kantor balai TNK di Bontang," kata Manajer Perlindungan Habitat Center for Orangutan Protection (COP) Ramadhani, Selasa (6/2/2018) malam.

Saat dibawa, kondisi kesehatan orangutan jantan yang diperkirakan berusia 5-7 tahun itu tidak dalam kondisi baik. "Kondisinya sampai Senin (5/2/2018) sore kemarin, tidak bagus. Dini hari tadi jam 1.55 mati," ujarnya.

COP bergerak cepat mencari lokasi yang memadai untuk melakukan rontgen dan juga keperluan autopsi. Hingga akhirnya mendapat tempat di RS Pupuk Kalimantan Timur di Bontang. (*)

Reporter : Zaenul Fanani    Editor : Administrator



Comments

comments


Komentar: 0