17 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Jatam Kaltim Soroti Dugaan Kriminalisasi Warga atas Lahan di PT Indexim


Jatam Kaltim Soroti Dugaan Kriminalisasi Warga atas Lahan di PT Indexim
Belianus, warga serta mantan karyawan PT Indexim yang dipecat karena berseteru dengan perusahaan tambang tempatnya bekerja di Kalionrang, Kutim. (Foto: Ardan)

KLIKSANGATTA.COM - Tidak terima itu yang dirasakan Belius Bela, pria 53 tahun warga Desa Bukit Makmur, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Ia berseteru dengan PT Indexim terkait  kasus sengketa lahan.

Sebelum divonis bersalah dan mendapat percobaan kurungan penjara 3 bulan oleh Pengadilan Negeri Sangatta, Belius juga menerima kenyataan diberhentikan dari pekerjaannya di perusahaan. Lokasi lahan itu berada di Desa Kaliorang, Kecamatan Kaliorang.

Surat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari perusahaan tambang batu bara itu diterimanya pada 19 Januari 2018. Alasannya, Belius melakukan penyerobotan pada lahan kerja PT Indexim Coalindo.

"Disampaikan kepada saudara bahwa saudara telah melakukan penyerobotan di lahan yang telah dikuasi PT. Indexim di Kilometer 13 jalur hauling, dengan melakukan penanaman bibit kopi di atas tanah dimaksud," tulis isi surat PHK yamg ditujukan kepada Belsius.

Pria yang sudah 5 tahun bekerja sebagai wakar di perusahan tersebut mengaku tidak terima atas perlakuan perusahan. Ia bersikukuh, lahan sengketa seluas 2 hektare itu telah lama digarap menjadi kebun dan belum dibebaskan perusahaan.

"Lahan kami garap dari tahun 1992, sudah banyak tanam tumbuhnya. Kemudian tahun 2017 perusahaan gusur tanam tumbuh kami, mengaku sudah dibebaskan," ungkap Belianus saat ditemui, Kamis 8 Februari 2018 lalu.

Merasa haknya diserobot perusahaan, Belianus bersama Marianti Mas, warga lainnya yang juga memiliki lahan di lokasi itu  lantas terus bercocok tanam di lokasi tersebut.

"Kita coba tanami lagi, karena sudah banyak tanam tumbuh kita disana, tidak ada pembebasan. Katanya sudah dibebaskan sama Abraham," tungkasnya.

Abraham adalah nama yang diklaim perusahaan selaku pemilik lahan sebelum dibebaskan. Namun menurut Belianus, tidak ada bukti pembebasan lahan. Begitu pula upaya penyelesaian sengketa yang tidak pernah dilakukan.

"Kami minta dipertemukan dengan Abraham tapi perusahaan tidak mau. Kami mau melihat bukti kepemilikan lahan dari dia (Abraham ) tapi tidak pernah diindahkan pihak perusahanm,” ujarnya.

Sampai akhirnya perusahaan pun melaporkan Belianus ke kepolisian atas tuduhan penyerobotan dan menggangu aktivitas pertambangan. Imbasnya, tindakan tersebut telah disidangkan dan masuk unsur tindak pidana ringan (tipiring)

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kalimantan Timur (Kaltim) menilai adanya ketidakadilan dalam kasus Belianus dan rekannya.  Jatam menduga ada upaya kriminalisasi terhadap warga yang ingin mempertahankan lahan mereka.

"Kami lihat ada ketidakadilan yang diterima warga, ada upaya kriminalisasi yang dilakukan. Kami akan melakukan upaya hukum lainna terkait kasus ini," kata Dinamisator Jatam Kaltim, Pradarma Rupang.

Rupang menyebut telah menyiapkan langkah hukum dan mengecam tindakan PT Indexim jika terbukti melakukan kriminalisasi terhadap warga dari permasalahan sengketa lahan.

"Jika terbukti, pemerintah layak mencabut ijin perusahaan. Kami juga menolak putusan yang dikelurkan pengadilan." (*)

Reporter : Ardhan Ahmad    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0