19 Desember 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

PLTU Tanjung Bara Back-up Kebutuhan Listrik Sangatta


PLTU Tanjung Bara Back-up Kebutuhan Listrik Sangatta
PLTU Tanjung Bara, Sangatta, Kutim. (Humas Kutim)

SANGATTA- Keberadaan excess power Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Bara, Kutai Timur, Kalimantan Timur yang berkapasitas 3 x 18 MW dan dibangun oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) diprediksi dapat memberikan multiplayer effect (dampak berganda) terhadap masyarakat di area sekitar PLTU. Sebab, saat ini telah mampu mendistribusikan listrik masyarakat Kota Sangatta sebanyak 25.578 kepala keluarga.

"PLTU ini menyalurkan 1/3 dari 3 x 18 MW untuk kepentingan masyarakat, ini penting sekali," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan sebelum meresmikan PLTU dimaksud, di Tanjung Bara, Kamis (8/3/2018).

Excess power menjadi penting sekali karena dijual dengan tarif yang sangat kompetitif di bawah BPP [biaya pokok produksi] listrik. Sehingga nantinya PLN bisa menjual dengan tarif yang baik juga. Untuk diketahui, pembangkit tersebut dibangun sejak Oktober 2011 dengan nilai investasi sebesar US$ 150 juta. Kehadiran excess power ini melengkapi kapasitas PLTU Tanjung Bara sebelumnya 2 x5 MW sehingga kapasitas PLTU Tanjung Bara menjadi 64 MW. Dari total kapasitas tersebut, 30 MW digunakan untuk kebutuhan listrik di lingkungan PT KPC (captive power) dan 34 MW sisanya merupakan excess power dengan 18 MW di antaranya telah berkontrak atau diperjualbelikan kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Untuk memproduksi excess power, pembangkit ini membutuhkan batu bara sekitar 256.122 ton per tahun dengan nilai kalori sebesar 4.700 GAR (Gross Air Received).‎ Jonan menuturkan, peresmian excess power PLTU Tanjung Bara sebagai upaya pemerintah mendorong penyediaan tenaga listrik yang lebih merata agar dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas dengan harga yang terjangkau.

"Pesan Pak Presiden, yang harus dilakukan semua kegiatan usaha, khususnya yang besar harus menyatu dengan masyarakat sekitar. Masyarakat harus terima manfaat langsung dari kegiatan usaha itu," kata dia.

Kelebihan daya dari PLTU berkapasitas 3x18 megawatt di Kutim yang dibangun oleh PT KPC ini akan dijual ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Jonan mengakui bahwa pembangkit yang dibangun Kaltim Prima Coal itu kecil. Apalagi bila dibandingkan dengan PLTU raksasa lain yang kapasitasnya bisa mencapai 2x1.000 MW.

Namun, satu hal yang menarik perhatian Jonan, sebesar 18 MW atau sepertiga kapasitas tersebut menjadi excess power yang dijual ke PLN.

"3x18 MW itu kecil. Kalau dibandingkan dengan yang dibangun sampai 2x1.000 MW, ini katak PLTU anak-anak. Namun, KPC berinisiatif sepertiganya dijual ke PLN. Makanya saya mau datang," ujarnya.

Peresmian PLTU Tanjung Bara dan kelebihan daya tersebut sebagai upaya pemerintah mendorong penyediaan tenaga listrik yang lebih merata dengan harapan dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas dengan harga yang terjangkau. Selain itu, Kementerian ESDM mendorong para pemegang izin usaha pertambangan (IUP) dan IUP khusus (IUPK) untuk membangun PLTU sendiri yang kelebihan dayanya bisa disalurkan kepada masyarakat.

Jonan mengatakan hal tersebut bisa membantu peningkatan rasio elektrifikasi di daerah setempat. Selain itu, harga jual listrik dari kelebihan daya itu diyakini sangat kompetitif. Oleh karena itu dia mendorong semua perusahaan pemegang IUPK atau IUP besar untuk membuat PLTU mulut tambang sendiri yang kira-kira sepertiganya bisa disalurkan ke masyarakat.

Anggota Direksi KPC Andrew C Beckham mengatakan bahwa sebelumnya kapasitas PLTU Tanjung Bara hanya 2x5 MW. Seiring dengan peningkatan produksi hingga di atas 60 juta ton batu bara per tahun, kebutuhan listrik KPC pun meningkat drastis.

"Dengan tambahan 3x18 MW, kapasitas kami jadi 64 MW. Kami berharap ke depan bisa melistriki seluruh Sangatta [Ibu Kota Kutai Timur]," harapnya. (*)

Reporter : Sukriadi    Editor : Administrator



Comments

comments


Komentar: 0