19 Juni 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

KETIKA DILANDA DILAN


KETIKA DILANDA DILAN

Oleh Nurhalifah*

BEB/images/img_galeri/70NURHALIFAH.jpgERAPA hari yang lalu, media diviralkan dengan aksi Jokowi bersama dengan anak dan menantunya yang “kepincut” dengan film “Dilan 1990”. Film remaja fenomenal yang berhasil membius jutaan penontonnya, sehingga tidak sedikit anak-anak, remaja, hingga dewasa yang ikut larut mengikuti alur ceritanya, bahkan bermunculan parodi-parodi “baperan ala Dilan”.

Menariknya bahwa Jokowi setelah menonton film itu, akhirnya menyatakan rindunya dengan sang istri lewat media yang disaksikan banyak pasang mata. Dari pernyataan rindu kepada istrinya yang akhirnya menimbulkan kontroversi di media sosial, walaupun tidak sedikit juga netizen yang memujinya akan pernyataan rindunya tersebut.

Di sisi lain, ketika Jokowi “baper” dengan film Dilan, nyatanya masih banyak hal-hal lain yang lebih penting “dibaperi”. Ghouta misalnya, disaat yang bersamaan muslim Ghouta berduka tapi tidak ada “baper” nyata dari Presiden Jokowi. Sebagai Presiden, yang merupakan pemimpin muslim dari negeri yang penduduknya mayoritas muslim setidaknya “baper” ketika menyaksikan Ghouta lebih penting daripada “baper” ketika menonton film Dilan.

Perbandingannya adalah film Dilan hanya drama fiktif, sedangkan Ghouta adalah kejadian luar biasa yang bersifat kemanusiaan. Bukan hanya Ghouta, tapi masih banyak negeri-negeri muslim diluar sana yang tidak hanya butuh “baper”, namun butuh solusi yang paripurna.

Pembantaian muslim Ghouta di Suriah oleh tentara Rusia dan pemerintahnya adalah peringatan berulang bagi umat Islam termasuk para pemimpinnya bahwa ada kewajiban yang dilalaikan terhadap hak-hak saudara muslim seiman. Baginda Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

Muslim Ghouta dan negeri-negeri muslim lainnya bukan sedang berperang, namun mereka dibantai, dan lebih dari itu mereka dianiaya oleh orang-orang kafir yang menjadi musuh umat Islam. Penderitaan saudara kita di Suriah telah berlangsung lebih dari delapan tahun. Berbagai bantuan pangan dan medis telah diberikan oleh saudara-saudara muslim. Bantuan ini memang sangat diperlukan, namun ada bantuan lain yang benar-benar akan mengakhiri penderitaan saudara kita, bantuan itu adalah pengiriman pasukan militer yang dimiliki negeri-negeri muslim.

Pasukan ini akan membebaskan muslim dari serangan musuh-musuh Islam, pasukan militer gabungan dari negeri muslim ini akan ada jika ada instruksi dari pemimpin umat Islam yang berfungsi sebagai junnah/perisai urusan ummat. Sehingga wajib bagi kita untuk mewujudkan pemimpin umat Islam yang akan menjadikan Islam sebagai sistem hidup, menjaga keamanan dunia, dan rahmatan lil aalamiin. Allohu A’lam Bishshowwab.

*Penulis ialah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kota Sangatta, Kutim

Reporter :     Editor : Administrator



Comments

comments


Komentar: 0