20 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Gamis dalam Kelas Kuliah dan Standar Ganda Toleransi


Gamis dalam Kelas Kuliah dan Standar Ganda Toleransi

Oleh Purwanti Rahayu*

WOMEN'S March Jakarta 2018, tuntutan & suara perempuan agar terpenuhi segala hak-haknya, juga akan membantu menyuarakan tuntutan & aspirasi kaum-kaum marginal yang kerap tertutup suaranya agar juga dapat di dengar & di penuhi segala hak-haknya. Berbanding terbalik dengan yang di alami oleh mahasiswi UIN SUKA Jogja yang di larang menggunakan cadar dengan alasan radikalisme. Dimana kebebasan yang di bolehkan bagi kaum muslimin dalam melaksanakan ajaran yang di yakininya??ternyata tidak sampai di situ saja bahkan ada larangan yang terbaru lagi yaitu pelarangan bagi mahasiswi menggunakan gamis ketika kuliah karena di anggap tidak tepat, gamis hanya di gunakan pada saat mengaji saja bukan untuk kuliah. Di STAIS Sangatta pun begitu tidak jauh berbeda katanya ketika menggunakan pakaian syari di anggap pakaian ke araban padahal inikan pakaian kaum muslimin yang wajib di pakai ketika baligh.

Negri ini yang mengusung demokrasi sebagai asas negaranya ternyata tidak konsisten, pembiaran terhadap pelecehan yang terjadi pada kaum muslimah yang hanya mau menjalankan tuntunan syariat wajib dan sunnahnya saja susah. Kebebasan tidak hanya akan menjadi ilusi atau mimpi belaka di negara yang mengklaim sebagai negara demokrasi. Hal ini tentu menyalahi mandatnya dan bertolak belakang dengan demokrasi yang dianut. Padahal indonesia sudah di akui oleh negara-negara lain sebagai negara demokrasi di asia tenggara dengan mayoritas penduduknya muslim terbesar di dunia. Namun, fakta di dalam menunjukkan bahwa demokrasi dan perlindungan hak asasi tidak berjalan secara sepenuhnya dan hanya sebatas jaminan normatif belaka.

pada ketentuan di Pasal 18 Deklarasi Universal HAM (DUHAM), kemudian Pasal 18 International Covenant on Social dan Political Rights (ICCPR), serta Amandemen Kedua UUD 1945 (Pasal 18-E (ayat 1), dan Pasal 22 UU No 39/1999 tentang HAM. Semua ketentuan hukum di atas menjamin kebebasan setiap individu dalam beragama dan berkeyakinan, termasuk kebebasan menjalankan dan mengamalkan ajaran agama dan keyakinan yang dianutnya.

Menjadi jelas bahwa kebebasan beragama adalah hak konstitusional warganegara yang sudah mendapat jaminan hukum yang kuat. Lebih jauh, penting diketahui juga bahwa kebebasan beragama ini termasuk dalam hak asasi yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (non derogable rights). Perihal status non derogable ini ditegaskan sebagaimana dapat dilihat dalam Pasal 4 (ayat 2) ICCPR, Pasal 28I (ayat 1) Amandemen Kedua UUD 1945, dan Pasal 4 UU HAM No 39 Tahun 1999. Karena itu, tidak ada alasan sedikitpun bagi negara (pemerintah) untuk membatasi dan mengurangi pemenuhan atas hak beragama ini.

Ironi sekali ketika kita hidup di sistem demokrasi saat ini ketika hukum Allah tidak di terapkan ketika hukum Allah di abaikan, mereka kaum marginal di negeri muslim menuntut kebebasan yang di haramkan oleh Allah padahal mereka membuka aurat, bebas memeluk agama sesuai keyakinan, bebas melakukan maksiat dimana-mana. Sedangkan kaum mayoritas terpinggirkan saat berpegang teguh pada tali agamanya. Padahal islam menjaga kemuliaan perempuan dengan seperangkat hukum-hukumNya.

An nisa 58 : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Siapa sebenarnya yang punya kewenangan dalam memberi identitas? Tentu bukan manusia, kelompok, rezim penguasa atau bahkan ide-ide sekuler. Islam menegaskan otoritas itu adalah wahyu Allah Swt, karena itu Islam tidak mengenal ikatan identitas apapun, selain ikatan iman dan ukhuwah Islamiyah, untuk seluruh kaum Muslimin. Sejak lahirnya risalah Islam dari Rasulullah Saw, umat Islam sudah terbiasa menjadi petarung, dan berakhir sebagai pemenang, karena seperti hadits nabi, Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya [Hadits hasan riwayat ar-Rawiyani, ad- Daruquthni, al-Baihaqi, adh-Dhiya']

Dalam beridentitas kaum Muslim perlu sadar sepenuhnya gelarnya sebagai khairu ummah (umat terbaik) yang punya posisi tinggi. Maka waspadalah jika ada pembelaan datang dari kelompok non Muslim atau kelompok yang bangga dengan Identitas sekulernya; Mungkin mereka tidak hanya sedang membela hakmu, tapi juga sedang mengaburkan identitasmu sebagai umat terbaik, waspadalah! (*)

*Penulis merupakan seorang ibu rumah tangga

Reporter :     Editor : Administrator



Comments

comments


Komentar: 0