26 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

TENAGA KERJA MALANG, GAJI BELUM TURUN JUGA


TENAGA KERJA MALANG, GAJI BELUM TURUN JUGA

Oleh Khairun Nikmah, S.Pd (Ibu Rumah Tangga di Sangatta)

UANG bukanlah segalanya, tetapi segalanya perlu uang. Agar dapur tetap mengepul diperlukan beberapa rupiah untuk menyalakan apinya. Beli gas, minyak goreng, sayur mayur bahkan garam pun perlu uang untuk membelinya. Selain itu, kesehatan, pendidikan dan kontrakan juga memerlukan biaya.

Sayangnya ternyata besar pengeluaran dari pada penghasilan. Pendapatan belum didapatkan karena belum dibayarkan. Dalam kebanyakan pemberitaan kini, dapat ditemukan peristiwa di mana gaji tenaga kerja kontrak daerah (TK2D) lingkup Pemkab Kutim saat ini belum cair, yakni untuk Juli dan Agustus. Alasan tertundanya gaji karena belum dianggarkan melalui APBD murni, Pemkab Kutim  baru akan dialokasikan pada APBD Perubahan.

Kehidupan harus terus berlanjud. Sehingga para tenaga kerja ini harus memutar otak mencari tambahan penghasilan ada juga yang terpaksa meminjam uang keberbagai pihak.

Dikarenakan gaji yang telat diberikan membuat beberapa pekerja mangkir. Sekretaris BPBD Kutim Ludi Firmansyah membenarkan, tidak semua pegawai masuk bekerja seperti yang diharapkan. Ada beberapa alasan, yakni masalah gaji yang kecil dan tertunda dibayar. Pada akhirnya para pegawai harus keluar kantor pada jam kerja, mencari pekerjaan sampingan sebagai tukang ojek, pencuci kendaraan, dan sebagainya.

Upah atau gaji adalah hak pemenuhan ekonomi bagi pekerja yang menjadi kewajiban dan tidak boleh diabaikan oleh para majikan atau pihak yang mempekerjakan. Sebegitu pentingnya masalah upah pekerja ini, Islam memberi pedoman kepada para pihak yang mempekerjakan orang lain bahwa prinsip pemberian upah harus mencakup dua hal, yaitu adil dan mencukupi.

Prinsip tersebut terangkum dalam sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi, “Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan.”

Seorang pekerja berhak menerima upahnya ketika sudah mengerjakan tugas-tugasnya, maka jika terjadi penunggakan gaji pekerja, hal tersebut selain melanggar kontrak kerja juga bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam. Selain ketepatan pengupahan, keadilan juga dilihat dari proporsionalnya tingkat pekerjaan dengan jumlah upah yang diterimanya. (*)

Reporter :     Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0