17 Desember 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Harga Batu Bara Naik Positif ke Rataan 100 USD


Harga Batu Bara Naik Positif ke Rataan 100 USD
Ilustrasi

KLIKSANGATTA.COM - Harga batu bara berhasil rebound pada akhir perdagangan Rabu (19/9/2018). 

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Januari 2019 ditutup rebound 0,18% atau 0,20 poin di US$112,15 per metrik ton.

Rebound harga batu bara kontrak Januari 2019 sekaligus mematahkan koreksi yang dibukukan dua sesi berturut-turut sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (18/9), harga batu bara kontrak Januari 2019 ditutup melemah 0,71% atau 0,80 poin di level 111,95.

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Oktober 2018 juga rebound dengan ditutup menguat 2,69% di level 101,10, setelah berakhir melorot 1,06% di posisi 98,45 pada Selasa (18/9).

Adapun di Zhengzhou Commodity Exchange, harga batu bara thermal untuk pengiriman Januari 2019 rebound dan berakhir menguat 0,83% atau 5,2 poin di level 631 yuan per metrik ton pada perdagangan kemarin, setelah terkoreksi dua sesi berturut-turut sebelumnya.

“Sejumlah penambang di Shaanxi dan Inner Mongolia telah menaikkan harga batu bara di tengah biaya bahan bakar yang lebih tinggi dan inspeksi pemerintah yang telah menekan suplai,” tulis China Coal Transportation & Distribution Association dalam risetnya, seperti dikutip dari Bloomberg.

China menjalankan pemeriksaan tambang di 12 wilayah penghasil batu bara utama, di antaranya  Shaanxi dan Inner Mongolia.

Sementara itu, harga minyak mentah menguat setelah perusahaan penyulingan dan eksportir di Amerika Serikat mengurangi cadangan minyak domestik ke level terendah tiga tahun.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober ditutup menguat 1,8% atau di posisi US$71,12 di New York Mercantile Exchange pada perdagangan Rabu (19/9), sedangkan minyak Brent untuk pengiriman November ditutup menguat 0,47% atau 37 sen di level US$79,40 di bursa ICE Futures Europe.

Dilansir Bloomberg, di saat penyuling di Amerika Serikat (AS) biasanya mengurangi aktivitas untuk pekerjaan pemeliharaan, tingkat pemrosesan pekan lalu tetap lebih tinggi 10% di atas tingkat tahun sebelumnya, menurut Energy Information Administration.

Sementara itu, permintaan luar negeri untuk minyak AS meningkat di pekan kedua di tengah berkurangnya pesanan untuk minyak mentah Iran menjelang berlakunya sanksi perdagangan.

"Kami mendekati bagian atas pasar bullish," kata Michael Lynch, presiden Strategic Energy & Economic Research, seperti dikutip Bloomberg.

Momok sanksi AS yang dimaksudkan untuk mengisolasi Iran telah mendasari penguatan harga minyak sejauh ini. Menurut HSH Nordbank AG, minyak brent akan diperdagangkan di atas US$80 per barel selama kuartal keempat di tengah pertumbuhan permintaan global dan penurunan ekspor Iran.

Persediaan minyak mentah Amerika turun 2,06 juta barel pekan lalu, kata EIA. Penurunan datang dalam 18% di bawah perkiraan median analis 2,5 juta dari survei Bloomberg.

EIA melaporkan bahwa ekspor minyak mentah AS naik menjadi 2,37 juta barel per hari, tertinggi sejak Juli. Diskon WTI yang dalam terhadap Brent telah memikat pembeli untuk membeli minyak AS. Sementara itu, pasokan di pusat penyimpanan utama di Cushing, Oklahoma, dan stok bensin nasional juga menurun.

Sumber: bisnis.com

Reporter : Ayub Fardani    Editor : Muhammad Vijay



Comments

comments


Komentar: 0